Berita

Pemerintah Kaji Perpanjangan Blok Masela
Rabu, 26 Juni 2013, 18: 29: 49 WIB, ( Hits : 120 )

Jakarta, Pemerintah masih melakukan pengkajian permintaan perpanjangan Lapangan Abadi, Blok Masela, yang diajukan operatornya, Inpex Masela Ltd. Kajian yang dilakukan, antara lain mencari celah atau kaidah hukum untuk perpanjangan kontrak karena berdasarkan aturan hukum yang ada, perpanjangan dapat dilakukan minimal 10 tahun sebelum kontrak berakhir.


Penegasan tersebut disampaikan Dirjen Migas Kementerian ESDM A. Edy Hermantoro di Jakarta, Rabu (26/6).


Edy menjelaskan, kontrak kerja sama Blok Masela, sebenarnya  baru akan berakhir pada tahun 2028 mendatang. Namun perusahaan migas asal Jepang itu telah mengajukan perpanjangan kontrak selama 20 tahun sebagai jaminan atas investasinya.


Blok Masela ditargetkan dapat memproduksi gas tahun 2018 sebanyak 421 MMSCFD dan minyak 8.400 barel per hari. Sedangkan kilang LNG Masela ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III 2018 dengan kapasitas kilang sebesar 2,5 MTPA.


Dengan sisa waktu produksi yang hanya 10 tahun, maka investasi yang telah ditanamkan, tidak akan mencapai BEP atau balik modal.


"Ini karena memang investasinya besar. Waktunya jadi panjang. Untuk return, itu melewati batas 2028 tadi. Kalau (berakhir) tahun 2028, belum BEP. (Inpex) minta diperpanjang," katanya.

Lebih lanjut Edy mengatakan, Pemerintah berharap dapat segera memberikan keputusan mengenai perpanjangan kontrak Blok Masela ini. Selain untuk memberikan jaminan investasi bagi investor, juga terkait dengan penerimaan negara. Investasi Inpex di Blok Masela diperkirakan  sekitar US$ 14 miliar.


"Investasi kan dihitung sampai end project-nya. Mana mau orang  investasi kalau nggak untung," tambah Edy.


Mengenai celah atau kaidah hukum yang sedang dikaji pemerintah, menurut Edy, sebagai contoh, perpanjangan yang diberikan, baru berlaku efektif 10 tahun sebelum kontrak berakhir.

"Itu kan bahasa-bahasa hukum. Ini hanya part of pola-pola penyelesaian, bagaimana investor mendapat ketenangan. Jadi artinya,  Indonesia masih bagus di mata mereka dan tidak melanggar hukum," papar Edy.


Inpex telah berbisnis di usaha hulu migas di Indonesia sejak Februari 1966 dan hingga kini telah memiliki hak partisipasi di lima blok produksi, tiga blok pengembangan dan tiga blok eksplorasi. Adapun lima blok lepas pantai yang dioperasikan Inpex yaitu North Aceh, North East Madura, Rabe, Masela dan Babar Selaru.


Inpex menemukan gas di lapangan Abadi, Laut Arafura pada tahun 2000. Lalu, enam sumur dibor untuk menghitung keekonomian proyek pengembangan gas ini. Pada 2010, pemerintah Indonesia menyetujui rencana pengembangan (Plan of Development/ POD) lapangan Abadi ini.


Kilang LNG Masela  akan dioperasikan oleh Inpex Masela dengan kepemilikan saham sebesar 60% dan selebihnya dimiliki oleh Shell Upstream Overseas Services Ltd (Shell) sebesar 30%, dan PT EMP Energi Indonesia, anak usaha PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) sebesar 10%. (TW)

[Copyright by Ditjen Migas]

» Index Berita  » Arsip Berita   » Cetak   » Kirim

Berita Terkait

20 Oktober 2014
Pemerintah Akan Tawarkan 6 WK Migas Putaran II Tahun 2014

18 September 2014
Pemerintah Siapkan Payung Hukum Pembangunan Kilang

15 September 2014
Pemerintah dan Komisi VII Sepakati Asumsi Makro RAPBN 2015

01 September 2014
Pemerintah Dorong Penggunaan LNG Untuk Kapal Laut

28 Agustus 2014
Over Kuota, Pemerintah Koordinasi dengan DPR

25 Agustus 2014
Percepat Penemuan Migas, Pemerintah Dorong Spekulatif Survei

12 Agustus 2014
Pemerintah Pantau Pelaksanaan Pengendalian BBM Bersubsidi

12 Agustus 2014
Pemerintah Buka Kesempatan Swasta Bangun Kilang Sendiri

07 Agustus 2014
Pemerintah Terus Monitor Pelaksanaan Pengendalian BBM Bersubsidi

06 Agustus 2014
Pemerintah Evaluasi Konsultan Internasional Untuk Kilang