HOME Kamis, 17 Mei 2012  
MEDIA
PENCARIAN
KATEGORI
ULASAN
SEBARAN BERITA
         
  ULASAN
DISTRIBUSI GAS BUMI DAN LPG UNTUK RUMAH TANGGA
Pembangunan jaringan distribusi gas kota menjadi titik balik dalam pola distribusi gas untuk keperluan rumah tangga domestik. Pola distribusi gas bumi dengan jaringan pipa sangat cocok untuk wilayah perkotaan yang dekat dengan sumber gas karena lebih ekonomis. Selain faktor kedekatan dengan sumber gas, target rumah tangga yang akan memakai gas pun harus mencapai jumlah yang ekonomis yaitu dalam jumlah yang cukup besar. Pada tahap awal ini baru sebagian kota yang menjadi prioritas pembangunan jaringan distribusi pipa gas. Untuk tahun 2009 ini hanya kota Surabaya dan Palembang. Tahun 2010 mulai bertambah untuk kota Bekasi, Depok, Tarakan dan Sidoarjo. Tahun 2011 mulai merambah Jabodetabek, Semarang, Bontang, dan Sengkang. Tahun berikutnya kota-kota lain namun masih di wilayah yang dekat dengan sumber gas. Meski ada rencana untuk membangun jaringan distribusi pipa gas untuk seluruh kota di Indonesia namun sepertinya hal itu belum bisa terwujud, mengingat ada sejumlah kota yang jauh dari sumber gas dan jumlah penduduknya yang akan memakai gas belum mencapai batas ekonomis. Misalnya untuk wilayah Maluku yang kondisi geografisnya berupa kepulauan yang tersebar. Atau kota-kota di Papua yang berada di sejumlah wilayah yang terhalang oleh pegunungan dan jumlah penduduknya relatif sedikit. Jadi, pembangunan jaringan pipa untuk melayani kebutuhan rumah tangga domestik merupakan solusi yang tepat untuk sejumlah wilayah tertentu, dan pada saat yang bersamaan sistem distribusi LPG tabung masih relevan dan tepat dalam melayani kebutuhan gas rumah tangga domestik.

HULU
Pengembangan Lapangan Donggi-Senoro untuk Domestik Untuk kebutuhan domestik, Konsorsium PT Pertamina dan PT Medco telah menurunkan harga jual gas Donggi – Senoro menjadi antara US$ 5-6 per MMBTU dari US$ 6,16 per MMBTU. Penurunan harga jual gas Donggi-Senoro untuk konsumen domestik itu dengan persyaratan pembeli harus siap menyerap gas tersebut dan adanya kejelasan dari segi pembiayaan. Hingga saat ini sudah ada 3 perusahaan yang menyatakan berminat membeli gas Donggi-Senoro yaitu PT Pupuk Sriwijaya (Pusri), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Panca Amara Utama (PAU). Ketiga perusahaan itu, membutuhkan pasokan gas sekitar 211 MMSCFD. Sedangkan untuk mengembangkan lapangan Donggi - Senoro, biaya yang diperlukan sekitar US$ 3,7 miliar, dengan perincian US$ 1,7 miliar untuk pengembangan upstream dan US$ 2 miliar untuk downstream. Jika estimasi kurs rupiah terhadap dolar sebesar Rp 10.000, maka biaya yang diperlukan sekitar Rp 37 triliun.

HILIR
Rencana Pembangunan Jaringan Gas Kota di Sejumlah Wilayah Pemerintah akan memperkuat sistem distribusi gas bumi dengan membangun jaringan pipa gas di sejumlah kota. Hasil kajian pembentukan kota gas tahun 2009 masih dalam proses. Beberapa kota yang sedang dikaji adalah Pekanbaru, Muara Enim, Bandar Lampung, Cilegon, Subang, Bojonegoro, Bangkalan, Tenggarong, dan Sengkang. Menurut hasil kajian, ada 27 kota yang berpotensi menjadi kota gas karena dekat dengan sumber gas. Dari hasil kajian, gas di Kota Tarakan, misalnya, harga jualnya sesuai keekonomian untuk rumah tangga, yakni Rp 3.287 per meter kubik. Sedangkan pembangunan jaringan distribusi gas kota untuk Kota Tarakan, Depok, Bekasi, dan Sidoarjo direncanakan tahun 2010. Kebutuhan dana pembangunan kota gas sekitar Rp 2 triliun. Kebutuhan setiap daerah tidak sama. Untuk Jambi, misalnya, butuh Rp 200 miliar yang diperkirakan akan kembali dalam 3 tahun. Ada juga daerah yang hanya menelan dana Rp 90 miliar. Total sambungan rumah dalam jaringan gas kota akan mencapai 80.000 rumah tangga tahun 2014. Pembangunan jaringan distribusi gas di Surabaya dan Palembang diharapkan dapat selesai pada akhir tahun 2009. Untuk Surabaya, gas pipa dibangun untuk 3200 KK, sedangkan di Palembang untuk 4200 KK. Untuk 2010, jaringan distribusi gas akan dibangun di 4 kota yaitu Bekasi, Depok, Tarakan dan Sidoardjo. Jaringan distribusi gas untuk 2011 rencananya akan dibangun di rumah susun bersubsidi Jabodetabek, Semarang, Bontang dan Sengkang. Madura, Balikpapan dan Jambi akan dibangun jaringan distribusi gas pada 2012. Setahun kemudian, giliran Sorong, Pekanbaru, Subang dan Lhokseumawe. Sedangkan 2014, jaringan distribusi gas akan dibangun di Samarinda, Muara Enim, Lampung dan Prabumulih.

Paket LPG 3 kg untuk 2010 Program konversi minyak tanah ke LPG akan berakhir 2010. Sebanyak 9,395 juta paket perdana LPG 3 kg direncanakan akan dibagikan tahun 2010. Volume isi perdana dan isi ulang yang akan dibagikan mencapai 3,001 juta metrik ton dan jumlah minyak tanah yang akan dikonversi sebanyak 7,4 juta kiloliter. Wilayah yang akan dikonversi tahun 2010 merupakan kelanjutan dari tahun 2009, ditambah daerah baru seperti Sumatera Barat, Bangka Belitung, Jambi, Bengkulu, NTB, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.

JASA PENUNJANG
Tidak ada berita. KETEKNIKAN DAN LINGKUNGAN Tidak ada berita.

REGULASI DAN UMUM
Penerimaan Migas Capai 67%, Penggunaan Subsidi 64% Hingga Oktober 2009, penerimaan migas mencapai Rp 124 triliun atau 67% dari target APBN-P 2009 yang ditetapkan sebesar Rp 183,6 triliun. Sementara penggunaan subsidi BBM dan LPG mencapai 64% dari pagu APBN-P 2009 atau sebesar Rp 33 triliun. Rendahnya realisasi penerimaan migas dan penggunaan anggaran subsidi BBM dan LPG, akibat rendahnya harga minyak pada awal tahun dan penguatan nilai tukar rupiah akhir-akhir ini. Perkembangan harga minyak dunia akan terus mempengaruhi penerimaan minyak dan gas bumi serta subsidi energi. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap harga minyak dunia adalah permintaan dan pasokan, stok minyak industri dan pemerintah, situasi perekonomian dunia, kapasitas produksi cadangan OPEC, cuaca dan gangguan terhadap suplai, geopolitik, nilai tukar dan spekulasi di pasar berjangka.

Perkiraan Harga Minyak setelah 2010 Setalah 2010 suplai minyak non OPEC dan kapasitas produksi OPEC masih akan meningkat. Di lain pihak, permintaan minyak masih di bawah tahun 2007 dan peningkatannya cukup lambat. Karena itu, dari sisi pasokan untuk 2010-2012 diperkirakan masih akan aman.Stok minyak dunia juga diperkirakan masih di atas rata-rata 5 tahun sehingga dari sisi pasokan masih aman. Diperkirakan pula perdagangan di pasar berjangka akan diregulasi sehingga kegiatan spekulasi berlebihan seperti 2008 dapat dicegah. Nilai dollar AS diharapkan juga akan lebih stabil sebagai hasil upaya dari AS. Situasi 2013 dan sesudahnya akan banyak bergantung pada kegiatan eksplorasi dunia mencari sumber minyak yang baru. Harga minyak 2010 diperkirakan berkisar antara US$ 65-70 per barel dan sekitar US$ 75-85 per barel pada 2012. Harga minyak ini tergantung pula pada kecepatan pemulihan ekonomi dunia dan harganya bisa lebih tinggi apabila dollar masih mengalami pelemahan.
 
 
Lainnya
© ditjen migas 2010