Demi Transparansi, Penawaran WK Migas Dilakukan Secara Elektronik

Bandung, Untuk pertama kalinya, Pemerintah dalam proses lelang penawaran wilayah kerja (WK) migas tahun 2015, memanfaatkan teknologi informasi dengan metode lelang elektronik. Metode ini bertujuan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas lelang dan diharapkan dapat meningkatkan jumlah peserta.

"Jadi tidak hanya peserta dari dalam negeri yang bisa mengakses, tetapi juga di seluruh dunia secara otomotis bisa," kata Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Djoko Siswanto pada acara Pengumuman Lelang Penawaran Wilayah Kerja Migas.Konvensional di Hotel Grand Aquila, Bandung, Kamis (10/9).

Penggunaan teknologi informasi dalam pelaksanaan penawaran wilayah kerja migas ini, sejalan dengan dinamika di masyarakat yang menginginkan transparansi di berbagai bidang. Dengan adanya lelang elektronik yang memberi kemudahan ini, Pemerintah berharap perusahaan-perusahaan migas besar masih berminat berinvestasi di Indonesia.

Pada tahap awal, lelang secara elektronik dilakukan hingga tahap forum klarifikasi. Sementara untuk pembukaan data dan pemasukan dokumen, masih dilakukan secara manual. Jika dalam penggunaan lelang elektronik mengalami kendala, Djoko menghimbau agar investor segera menghubungi Ditjen Migas untuk ditindaklanjuti.

"Kami membutuhkan masukan dari stakeholder, apa saja kendalanya. Nanti akan kita evaluasi," tambahnya.

Pada penawaran WK migas konvensional tahun 2015, Pemerintah menawarkan 8 WK, terdiri dari 2 WK migas yang ditawarkan melalui penawaran langsung yaitu Southwest Bengara dan West Berau dan 6 WK migas yang ditawarkan melalui lelang reguler yaitu Rupat Labuhan, Nibung, West Asri, Oti, Manakara Mamuju dan Kasuri II. (TW)